rahasia semar mesem
semarmesem | Uncategorized | , ,

Pada mula kemunculan ajaran Islam di tanah Jawa, wayang kulit yang merupakan budaya lokal telah mengalami berbagai macam perubahan. Pada masa masuknya islam era walisongo, terutama pada era Sunan Kalijaga. Wayang kulit disesuaikan wujud dan istilah penyebuatannya, sesuai dengan budaya masyarakat pada masa itu.

Begitu cerdiknya Sunan Kalijaga, beliau menyisipkan nilai-nilai islami pada istilah-istilah pewayangan kala itu.

Pa atahun 1443 Masehi, Oleh Sunan Kalijaga, Wayang kulit yang kental dengan budaya lokal ini pun disisipkan istilah yang lebih islami, melalui penamaan para tokoh pewayangan.

Dari sekian tokoh pewayangan yang digubah walisong, yang paling terkenal sampai sekarang adalah sosok punakawan. Yaitu, Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

Jika ditelaah, masing-masing sosok punakawan ini membawa sebuah pesan yang disisipkan oleh walisongo. Pesan atau makna filosofis tersebut, yaitu:

  1. Sosok Semar.

Nama Semar berasal dari Bahasa Arab “Simaar”, yang berarti paku. Maksudnya, sosok ini adalah perlambangan kekokohan ajaran islam di dunia ini atau dalam Bahasa Arab disebut sebagai Simaaruddunya.

Bisa juga diartikan sebagai “kawan” dari kata Samiirun yang mana sosok ini selalu setia menemani dan majikannya, yaitu Arjuna.

  • Sosok Gareng

Dari bahasa Arab “Naala khair”yang kemudian dalam lidah Jawa disebut “Nala gareng”. Naala Khair berarti mengajak dalam kebaikan. Dengan kata lain, sebagai manusia kita harus senantiasa berbuat baik dan mengajak orang lain dalam hal kebaikan pula.

  • Sosok Petruk

Berasal dari kata bahasa Arab “Fatruk” yang mana artinya yaitu tinggalkan. Maksudnya yaitu, sebagaimana manusia yang baik. Sudah sepatutnya kita meninggalkan segala larangan-larangan Tuhan.

  • Sosok Bagong,

Atau berasal dari kata Bahasa Arab “Bagha” yang artinya kejelekan. Versi lain, mengungkapkan bahwa sebagai manusia kita seharusnya berbuat tegas manakala melihat hal terjela di hadapan kita.

Jika keempat istilah tersebut di satukan, maka akan menjadi kalimat “Samir khairon, Fatruk Bagho”. Atau, berkawanlah (dekatilah) dengan perbuatan yang baik. Serta tinggalkanlah perkara yang jelek.

Chat WhatsApp Langsung Disini